Media Sosial dan Unintended Consequences

Bulan Oktober yang lalu, operator 911 di kota Olympia kebingungan karena menerima banyak panggilan dari berbagai lokasi secara hampir bersamaan. Anehnya, ratusan panggilan tersebut langsung ditutup sebelum sempat dijawab.

Akibatnya, sepanjang malam itu layanan call center 911 lumpuh karena tidak bisa menanggapi permintaan bantuan yang legitimate secara efektif.

Setelah ditelusuri, akhirnya diketahui kalau panggilan telepon tersebut disebabkan oleh malware yang membuat perangkat iPhone menelepon 911 secara terus-menerus―sampai dimatikan oleh pemiliknya. Malware tersebut merupakan sebuah kode program yang awalnya dibuat untuk menunjukkan loophole dalam sistem operasi di iPhone.

Oleh pembuatnya, kode program itu ditempelkan ke sebuah tautan yang kemudian disebarkan melalui Twitter.

Ia masih remaja. Usianya baru 18 tahun. Awalnya, ia pun hanya iseng saja saat membuat kode program tersebut.  Tidak ada niat sama sekali untuk melumpuhkan layanan 911. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa tautan itu menyebar begitu cepat, apalagi saat tautan itu di-tweet oleh akun dengan 440 ribu follower.

Fenomena di atas mengingatkan kita sekali lagi akan salah satu sifat unik media sosial yang membuatnya sangat efektif untuk penyebaran konten digital. Para pakar menyebutnya amplification.

Tombol share, retweet, repath, send to dan lain-lain adalah wujud nyatanya di Internet. Dengan amplification, seorang pengguna Twitter dengan follower seribu orang bisa saja menjangkau jutaan orang jika sebagian besar follower-nya me-retweet pesan yang dia sampaikan, kemudian di-retweet lagi oleh follower dari follower-nya, dan seterusnya.

Ketika sebuah pesan menyebar secara tidak terkendali, dampaknya pun tidak terbayangkan.

Di Indonesia, belakangan ini media sosial dan media tradisional ramai memberitakan sebuah segmen pertunjukan seni karya Natasha Gabriella Tontey yang dinilai kontroversial oleh masyarakat, bahkan sampai dikritik oleh pejabat negara.

Saat diwawancarai oleh salah satu media, sang seniman bilang bahwa sebenarnya ia punya pesan yang menurutnya penting untuk diketahui oleh publik. Namun, pesan tersebut hanya bisa dipahami apabila konteks dan latar belakang dari pertunjukannya diketahui secara menyeluruh oleh penontonnya.

Karena itu, ketika foto dan video pertunjukan tersebut menyebar lewat media sosial, tentu saja hal itu menuai protes. Sebab, konteksnya tidak ikut menyebar. Saat konteksnya dipahami pun, belum tentu hal ini bisa diterima karena latar belakang publik di media sosial sangat beragam. Sang seniman pun akhirnya menyayangkan hal itu.

Sebelumnya, media sosial kita juga sempat ramai soal video anak kecil yang salah menyebut salah satu nama ikan saat diminta oleh Presiden RI dalam sebuah acara. Video itu menyebar luas sampai diberitakan oleh berbagai media tradisional.

Belakangan muncul permintaan dari KPAI untuk menghentikan penyebaran video tersebut agar hal ini tidak berdampak buruk pada sang anak di masa depan.

Tiga contoh di atas menunjukkan potensi adanya unintended consequences dari penyebaran pesan melalui media sosial yang tidak terkendali.

Para remaja yang tidak sengaja ikut menyebarkan malware di atas tidak pernah berpikir hal itu akan melumpuhkan layanan 911. Kita semua yang melihat dan berbagi video anak kecil itu pun sama sekali tidak berniat untuk melukai perasaan sang anak. Bahkan, niat kita baik―menghibur teman lewat tontonan yang lucu.

Sulit rasanya untuk memprediksi bagaimana tindakan kecil seperti menyebarkan pesan di media sosial bisa berujung pada konsekuensi yang berakibat fatal bagi diri sendiri maupun orang lain.

Mungkin kita cuma perlu selalu ingat bahwa media sosial adalah ruang publik yang sangat luas, di mana setiap orang bisa saling terhubung dan terkena dampak perbuatan kita. Karena itu, kita semua punya tanggung jawab untuk berhati-hati dalam bersikap, sama seperti saat kita berada di tengah-tengah keramaian.

Menurut kamu gimana?

Update: versi pertama tulisan ini memuat bahwa permintaan untuk menghentikan penyebaran video tentang anak yang salah menyebut nama ikan datang dari pihak keluarga dengan alasan sang anak menderita disleksia. Namun, ditemukan kemudian bahwa kabar ini adalah hoax, sehingga tulisan ini diperbarui dengan alasan yang sebenarnya.

Reference:

“The Night Zombie Smartphones Took Down 911.” The Wall Street Journal. Mar 2017. (link)
“Natasha Gabriella Tontey Bicara soal Makan Mayit yang Kontroversial.” Detik.com. Feb 2017 (link)
“Termasuk Bully, KPAI Minta Video Siswa Salah Bicara Ikan Tongkol Jangan Disebarkan.” Kompas.com. Jan 2017 (link)

 

4 Replies to “Media Sosial dan Unintended Consequences”

  1. Sangat setuju sekali dengan pandangan yang bagus dari Kang Julian ini. Saya berharap semua pengguna media sosial menyadari tanggung jawab yang disebut Kang Julian ini.

    Satu gerakan kecil jempol kita bisa menyebabkan bahaya besar bagi seseorang yang akan melekat padanya sepanjang hidupnya.

    Bagian akhir tulisan Kang Julian memberi perspektif yang menarik : menyamakan media sosial seperti ruang publik sehingga ” kita punya tanggung jawab untuk berhati-hati dalam bersikap, sama seperti saat kita berada di tengah-tengah keramaian. ”

    Media sosial memang ruang publik, tapi tidak sepenuhnya publik. Inilah persoalannya.

    Di ruang publik nyata kita tidak bisa menyembunyikan identitas kita. Kalau kita macam-macam, orang lain bisa dengan mudah menghentikan kita sehingga kita tidak bisa melarikan diri dari akibat perbuatan kita. Kenyataan ini dengan sendirinya menimbulkan perasaan hati-hati.

    Sementara itu, di media sosial kita bisa menyembunyikan identitas kita dengan akun anonim. Kalau ternyata ada masalah, mudah saja kita menghapus akun, misalnya.

    Selain itu, di ruang publik yang nyata biasanya ada otoritas yang mengatur ketertiban. Sedangkan di dunia maya, nyaris tidak ada sehingga pemilik akun medsos merasa ringan untuk berbagi apapun.

    Jadi untuk menimbulkan rasa tanggung jawab sosial sebagaimana yang dianjurkan Kang Julian ini, perlu kesadaran yang lebih mendasar daripada kesadaran untuk menjaga ruang publik. Kesadaran sebagai manusia atau sebagai hamba Tuhan, yang meyakini bahwa meski tidak ada yang melihat pun, akibat tindakan kita akan kembali kepada kita sendiri.

    Di sisi lain, perlu juga campur tangan pembuat medsos dan otoritas lain untuk mencegah timbulnya bahaya, tapi juga jangan sampai campur tangan ini memasung hak berekspresi yang tidak berbahaya.

    Makasih ya Kang Jul, tulisanmu mencerahkan, as always 🙂

    1. Thanks, Kang Abdur. Setuju soal usulan agar pembuat media sosial juga berperan lebih dalam mencegah penyebaran konten yang berbahaya. Tapi implementasinya sulit, karena selain dari sisi teknologi, ada unsur kepentingan bisnis dan politik juga di sana.

      Cara yang lebih efektif memang kembali ke kesadaran masing-masing. Ini sebenernya tujuan dari tulisan ini juga 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *